Dengan Segala Maha Itu

enlightenment-2

 

Telah kukunyah, telah kutelan

caci maki sumpah serapah dunia

membuncit di perutku

menyatu pada aliran nadi,

hembusan napas

semua partikel tubuh

 

Namun jiwaku kau buat kebal

Tak mempan pada semua nista kehidupan

aku adalah Kau

dengan segala Maha itu

 

Telah kukunyah, telah kutelan

pahit manis, indah, serapah kehidupan

mengering, menggelap pada tubuh

mengkaratkan raga

menghancurkan raga

 

Namun jiwaku kau buat kekal

Tak mempan dilanda karang, bebatu, besi dan semua keras tajam

Tak berkarat segala asam

Aku adalah kau

Dengan segala Maha itu

 

Ragaku yang tiada

Kita mewujud satu

Dengan segala Maha itu

Kita Adalah Laju Kereta Api

train

 

Kita adalah laju kereta api,

Jejak-jejak yang kita tinggalkan serupa kepulan asap-asap hitam

Yang muncrat dari cerobong lokomotif

Lalu terpias-pias menyatu ke udara

Kemudian masuk ke hidungmu

Menyesak-nyesak dalam paru-parumu

Berusaha menyampaikan kata-kata agar sampai pada jiwamu

 

Tapi dirimu hanya sebatas lambung

Yang tak kenyang-kenyang

Walau telah muntah membuncit perut

 

Kita adalah laju kereta api,

Tak bisa keluar kita dari lajur rel-rel besi tua

Yang telah dipaku menancap

Menghunus tanah

 

Apakah arti perjalanan percepatan?

Apakah itu menghitung berapa persinggahan?

Pada beberapa stasiun

Lalu tak bertanya apakah itu stasiun?

Pada akhir

 

Kita adalah laju kereta api,

Yang mengangkut semua sampah-sampah

Berupa kenangan, kesedihan, amarah, kesenangan

Kebahagiaan?

Berupa gerbong-gerbong laju roda

Kita

Menjadi karat

berat

 

Jangan Panggil Aku Penyair

kla

 

Masih akan kutulis juga syair-syair

Walau lambung bercumbu punggung

Walau dada tak akan pernah membusung

Sebab berpantang tunduk pada semua bisu yang membumbung

Sebab  berpantang dibunuh semu takdir

 

Jangan pernah kau panggil aku penyair

Karena kata-kata bagimu adalah bunga-bunga

Sementara dunia adalah kumpulan lupa dan kuburan caci maki nista

Dan kita adalah makhluk terkutuk

yang selalu ingat untuk sekedar nyinyir

 

Namun tetap saja kau tak pernah alpa melupakan diri sendiri

Serupa membunuh berkali-kali jiwa sendiri

 

Biarkan syair-syair memuntah dari mulutku

Tak akan ada arti napas tanpa kata-kata

Yang menggema sebagai mantra-mantra pengingat lupa

Sementara kau tetap membuncitkan perut

Sibuk meraup segala

Hingga napas habis, hidup hanya  itu saja

Saat Hidup, Apa Yang Dicari?

damai.jpg

Sore itu sungguh indah, warna kejinggaan matahari senja terlihat mempesona di area pegunungan itu. Seorang penggembala muda sedang duduk di bawah pohon sambil menatap domba-dombanya yang masih sibuk melahap rumput.

Namun indahnya senja itu tak mempengaruhi si penggembala sedikit pun. Ia sedang terlarut dalam lamunannya sendiri. Ah, aku merasa tak bahagia, begitulah ia berpikir dalam lamunannya. Ada yang salah dengan hidupku, pikirnya lagi.

Berhari-hari si penggembala menyibukkan benaknya dengan pemikiran itu. Tentang kebahagiaan yang tak ia rasakan dalam hidupnya. Hingga akhirnya ia mengambil keputusan untuk  berhenti menjadi penggembala. Ia ingin menjadi pedagang, saudagar sehingga memperoleh banyak uang. Mungkin dengan menjadi kaya ia bisa bahagia, begitu pikirnya.

Selang berapa lama si penggembala sudah menjadi saudagar sukses. Hartanya berlimpah. Sungguh ia seorang yang mujur. Dengan harta ia pun bersiap mencari bahagia. Ia beli semua apa yang diinginkan, pergi kemana pun kaki ingin melangkah, menghabiskan uang demi apapun ia bisa merasa senang, berjudi, berbelanja, menghambur-hamburkan uang.  Lanjutkan membaca “Saat Hidup, Apa Yang Dicari?”

Hujan Reda, Kenangan Tak Ada

hujan-reda

Hujan reda, kenangan masih tak ada

Dunia hanyalah perahu untuk menepi pada pelabuhan yang masih diduga-duga

 

Hujan reda, kenangan masih tak ada

Raga-raga tak kusimpan dalam ruang, selain jiwa-jiwa berpenerang

Yang memamah semesta, mencari-cari arah jalan pulang

Menghindari satu per satu jebakan dan kurungan

 

Hujan reda, kenangan masih tak ada

Aku yang Kau sumpahi lupa saat pertama bertemu udara

Maka telah pula kusumpahi diri sendiri untuk melupakan semua

Selain Kau yang masih selalu kucari-cari, walau sering kuyakini begitu acap kudatangi

 

Hujan reda, kenangan masih tak ada

Aku yang kekal, semua punah

Kau yang abadi tak akan pernah fana

Mencari Diri Sendiri

soul

Sering kita kehilangan diri sendiri,  pada ramai keramaian, pada hingar bingar tawaan, ada sedih pilu tangisan.  teriakan-teriakan atau umpatan.  Dari orang lain, banyak-banyak raga

Tak satu dua kali kita hilang, dari diri kita sendiri, saat tiada raga lain,  saat hanya ada helaan napas sendiri. Kita mencari-cari diri, hingga menginginkan raga-raga lain menjadi milik. Tapi tetap saja kita menyadari masih kehilangan diri sendiri

Entah kemana harus dicari? Apakah pada gegap gempita malam? Pada sibuk kalut siang? Pada hingar bingar banyak kesenangan?

Namun tetap saja kita masih kehilangan diri sendiri

Kita masih melupakan di sudut kelam ada yang menunggu dijemput atau sekedar disapa.  Adalah diri kita sendiri yang selalu kita cari-cari sendiri. Berada di dalam diri, tempat yang selalu luput dari kita cari

Sang Raja Sedang Gundah

raja
(Perihal Rakyat Menuntut Penangkapan Seorang Pencuri)
 
Di suatu negeri nun jauh di awang-awang keadaan sedang genting. Sang Raja pun dibuat galau. Para penasehatnya berusaha memberikan solusi.
 
Konon cerita alangkah banyak rakyat berkumpul di depan gerbang benteng kerajaan. Mereka marah dan geram karena seorang pencuri membuat resah. Mereka ingin pencuri itu segera ditangkap. Maka datanglah mereka berbondong-bondong demi menuntut keinginan itu segera tercapai.
 
Raja pun langsung ingin bergegas keluar dari benteng demi menemui rakyatnya. Namun penasehat 1 melarang.
 
Penasehat 1 : Wahai Rajaku, kiranya urungkanlah niatmu untuk menemui kumpulan rakyat yang alangkah banyaknya itu.
 
Raja : Mengapa begitu? Rakyat tentu harus kutemui. Aku adalah pemimpin mereka, harus kudengarkan keluhan dan permintaan mereka. Apalagi selama ini aku selalu datang mengunjungi mereka. (Raja menampakkan raut kesal pada penasehat 1 yang ia nilai telah memberikan solusi tak logis)

Lanjutkan membaca “Sang Raja Sedang Gundah”