Featured

Perempuan Hujan

 

woman rain

Bisakah kau mendengar gaduhnya hujan di luar sana, Raka? Mengapa awan dan angin harus berebut rintik dengan begitu sengitnya? Tak bisakah mereka mengalah saja dan kembali kepada ketiadaan, kembali pada awal  semua musim, sebelum membaginya menjadi empat? Sebelum ada apa-apa, sebelum rintik hujan, sebelum gugur daun, sebelum rekahan panas dan gumpalan salju?

Mengapa aku tiba-tiba tak lagi menikmati hujan, Raka? Aku kehilangan merdu rintiknya, sejuk uapnya, harum tanah dan rumput karena basahnya. Mereka sekarang ibarat gaduh yang meraja. Gaduhnya menghimpitku. Menyesakkan, seperti mengurungku dari dunia luar. Membuat sepi terasa semakin menyatu pada diriku. Bisakah kau memecahkan sepinya?

Kenapa kau tak juga menyahutku, Raka? Apakah hujan menelan suaramu menjadi desau angin sebelum terdengar olehku? Apakah rintik hujan melarutkan ragamu sebelum sampai padaku? Sebelum memelukku? Tapi suara apa itu, Raka? Apakah kau yang memanggilku diantara rintik hujan?

*   *    * Lanjutkan membaca “Perempuan Hujan”

Iklan
Featured

Pada Sebuah Lobi Hotel

empty

Lelaki itu masuk tergopoh-gopoh ke lobi hotel bintang lima. Tanpa permisi, apalagi basa-basi. Ia langsung nyelonong ke arah sofa-sofa empuk yang disusun rapi di sana. Tempat biasa para tetamu duduk-duduk atau sekedar bertemu dengan siapapun yang dimau.

Lelaki itu seperti mencari sesuatu. Ia mengobok-obok setiap meja, mencari-cari di sela-sela sofa, melongok ke bawah kolong. Ia berpindah dari sehimpun sofa dan meja yang satu ke satu lainnya. Ia terlihat panik. Mungkin kehilangan sesuatu yang berharga.

Sebegitu panik ia, hingga tak peduli tamu-tamu lain terganggu, kesal, mungkin juga marah. Siapa pula yang tak marah, sedang asyik duduk-duduk, mengobrol, tiba-tiba seseorang tak dikenal datang mengacau. Tanpa permisi pula.

Jika saja lelaki itu tak menggunakan setelan jas yang tampak mengkilap, sudah pasti sedari tadi ia sudah dimarahi satpam, resepsionis, bell boy dan entah apa lagi jabatan pegawai hotel yang sudah mengamatinya dengan bingung sejak mula. Jika jasnya itu tak memancarkan kemahalan busana, pastilah sudah dari tadi ia digiring keluar. Diusir. Lanjutkan membaca “Pada Sebuah Lobi Hotel”

Featured

Ada Tangisan Bocah Terdengar

tangis

 

Beberapa hari ini, setiap malam ada suara tangisan yang terdengar. Sepertinya bocah perempuan. Tangisan yang sungguh menganggu. Membuat susah untuk tidur nyaman.

“Kenapa dia menangis lama sekali tiap malam? Sampai berjam-jam?” tanyamu heran. Lagi-lagi seperti beberapa malam sebelumnya, kau mendekati jendela, melihat ke jalanan. Aku meniru tingkahmu walaupun tahu kita tak akan melihat bocah itu.

Dia pasti ada di salah satu rumah tetangga kita. Anak siapa yang sebenarnya menangis? Apakah anak si Rusdi, Burhan, Effendi, Rudi, Hasnam atau siapa? Di perumahan padat seperti ini tentu ada banyak bocah perempuan. Mungkin ada belasan. Kenapa orang tuanya tak bisa membuat bocah itu berhenti menangis selama berhari-hari setiap malam? Lanjutkan membaca “Ada Tangisan Bocah Terdengar”

Featured

Calon Presiden Saya Adalah Rahasia

rahasia

Beberapa teman bertanya siapa calon presiden saya. Saya hanya diam dan tersenyum, enggan menjawab. Saya tahu pilihan kami berbeda. Dari pada merusak hubungan pertemanan, saya merasa lebih baik diam.

Apalagi beberapa teman sering marah jika ternyata pilihan saya berbeda dengan mereka. Terkadang malah ada yang marahnya lebih parah dari pada bapak-bapak yang tak restu pada calon mantu. Saya takut terpancing lalu ikutan marah. Nanti malah bikin nambah kerutan wajah saja, percuma kan perawatan kulit sana-sini.

Ada juga teman yang langsung ceramah kalau dengar perbedaan pilihan ini. Wah, kalau dengar ceramah saya ini pemilih, ga mau dari sembarang ustadz. Apalagi teman-teman saya ini bukan ustadz. Ceramahnya juga bukan menambah ilmu agama apalagi nambah ketakwaan, ceramahnya malah tentang betapa hebat calon presiden pilihan mereka dan betapa buruknya calon presiden pilihan saya. Ah, saya tak mau, lebih baik saya diam tak menjawab.

Bagi saya pilihan diam ini bukan sikap pengecut. Bukankah kebenaran itu adalah misteri? Kebenaran tak bisa dipastikan. Tak ada validitas. Hanya Tuhan yang tahu dengan pasti apakah itu benar ataukah tidak benar. Lanjutkan membaca “Calon Presiden Saya Adalah Rahasia”

Featured

Intoleransi dan Ekstremisme Berakar Ego

ego

Sungguh ekstremisme dan intoleransi beragama sudah lama ada. Berulang-ulang kali terjadi sejak dulu, bahkan sejak zaman lampau. Telah bermula sejak pertama manusia mengenal keyakinan dan agama.

Sebagai contoh, pada awal mula Islam, Nabi Muhammad mengalami intoleransi bahkan ekstremisme. Bukan sekedar didiskriminasi namun hingga diusir dan diupayakan untuk dibunuh. Pada sejarah Kristen disebutkan Yesus mengalami hal serupa. Ia berakhir dengan disalib.

Betapa agama-agama tersebut bermula dari perjuangan melawan intoleransi dan ekstremisme. Hingga akhirnya berbuah hasil, agama/keyakinan itu menjadi besar, dengan pengikut yang bertumbuh menjadi massa yang setia turun temurun. Lanjutkan membaca “Intoleransi dan Ekstremisme Berakar Ego”

Featured

Cermin Alam

cermin

Saat daerah tempat kita tinggal dilanda banjir atau longsor, kita mengiba-iba. Lagi, selalu kala bencana. Kalimat iba itu beragam namun intinya seragam : Mengapa Tuhan menguji dengan memberikan kita bencana tak henti?

Mungkin untuk itulah agama dibutuhkan, begitu juga Tuhan selalu diharapkan. Untuk segala muara keluh kesal. Semua pengharapan. Namun, entah mengapa juga Tuhan seolah dijadikan ibarat tumpuan semua sebab musabab. Bencana semata-mata karena ujian Tuhan. Begitulah sering kita berpikir.

Jika dipikir-pikir memang benar adanya bahwa tak ada hal sekecil apapun bisa terjadi tanpa restu Tuhan. Begitu pula bencana. Mungkin memang benar pula beberapa bencana hanya bisa terjadi hanya karena kekuasaan Tuhan. Tanpa ada campur tangan manusia. Semisal gempa dan tsunami. Lanjutkan membaca “Cermin Alam”

Featured

Lesatan

lesatab

 

Saya membayangkan bagaimana rasanya hidup di masa-masa lalu, saat tak ada internet dan telepon seluler. Bahkan  di saat sama sekali belum ada jaringan telepon biasa, yang berkabel dan berbunyi kring kring kring.

Untuk berkomunikasi dengan orang yang tak berada di jarak pandang, akan sangat susah. Harus jauh-jauh menempuh jarak untuk bisa bertemu dulu. Atau pula harus bersabar beberapa waktu demi sampainya sepucuk surat pengganti lisan.

Entah berapa lama surat itu akan sampai, seminggu atau paling cepat beberapa hari. Itu pun belum termasuk waktu untuk menunggu surat balasan. Nanti jika masih ada yang rasanya belum selesai dibicarakan, maka harus mengirim surat kembali, perlu lagi menunggu balasannya berhari-hari. Lanjutkan membaca “Lesatan”

Featured

Damai

damai

Damai. Kedamaian. Sungguh betapa sering kita mendengar kata-kata itu digaungkan dimana-mana. Semua agama mengajarkan hal yang sama tentang damai, tentang pentingnya masing-masing umat menjaga kedamaian. Kalaupun ada perselisihan, tujuannya adalah untuk menciptakan kedamaian yang lebih luas arti.

Tapi kedamaian ini kadang menjadi semakin sempit dalam kepala kita masing-masing. Bagi kita, kedamaian adalah sesuatu yang berada di luar, di sekitar, di sekeliling kita. Bahwa kedamaian adalah ketika tak ada perang yang terjadi di daerah yang kita tinggali. Bahwa kedamaian adalah tak ada bantai membantai, tak ada darah bersimbah, tak ada kekerasan. Bahwa kedamaian adalah saat tak ada kemarau panjang dan tanaman masih tumbuh subur. Selalu, kita merasa bahwa kedamaian adalah sesuatu yang berada di luar diri. Lanjutkan membaca “Damai”

Featured

Selfie

selfi

Suatu hari saya bersama dua orang teman pergi jalan-jalan. Berbagai tempat kami kunjungi, lokasi-lokasi wisata.  Kedua teman saya ini senang sekali diajak jalan-jalan.

Seorang diantara mereka terbilang jarang pergi berwisata. Jika pun pergi jalan-jalan, paling sering hanya ke pusat-pusat perbelanjaan. Walaupun memang tak selalu belanja, paling tidak sekedar lihat-lihat saja.

Teman saya ini terlihat girang saat kami berwisata. Dia mengapresiasikan kegirangannya itu dengan mengambil banyak foto diri alias foto selfie. Lanjutkan membaca “Selfie”

Featured

Kilau Perempuan

kilau

Ini bukan hari Kartini, bukan pula hari perempuan. Tapi menulis tentang perempuan tak haruslah menunggu-nunggu momen seperti itu dulu. Apalagi sampai sekarang kasus kekerasan pada perempuan masih bejibun.

Sementara di sisi lain, masih banyak  perempuan yang membuat kejadian alay lebay ala cinta monyet. Salah satu contohnya Awkarin, youtubers dan selebgram yang mengupload video di youtube sambil menangis-nangis curhat ke netizen karena cinta monyetnya berakhir. Hidup bagai artis sinetron, diumbar-umbar urusan pribadi.

Seperti paradoks, di satu sisi perempuan menjadi korban. Namun di sisi lain, perempuan mengorbankan dirinya sendiri.

Di Indonesia, jumlah kekerasan pada perempuan tahun lalu saja tercatat ada 16.217 kasus.  Jika semua korban dijejerkan entah sebanyak mana akan terlihat.  Jangan-jangan tak akan muat  kalau dibariskan di kebanyakan lapangan sepak bola. Sebanyak 16.217 kasus itu data yang dicatat Komnas Perempuan. Lalu berapa banyak kasus yang tak tercatat dan tak dilaporkan? Lanjutkan membaca “Kilau Perempuan”

Featured

Kapal

kapal

Dalam kehidupan, kita, manusia seperti sebuah kapal. Kita mengarungi lautan serupa menjalani hidup, demi sampai pada samudera.

Dalam perjalanan itu, kita mengharapkan sebuah pelayaran yang tenang-tenang saja. Sehingga bisa cepat kita sampai pada tujuan. Sehingga bisa santai kita berlayar, sambil menikmati pemandangan, tanpa stres, tanpa beban yang terlampau berat.

Namun kehidupan adalah lautan yang tak terduga dengan segala kejutan yang pasti selalu ada. Kadang badai, kadang tanpa angin.  Kita pun akhirnya tak bisa sekedar duduk santai di buritan kapal. Tak akan ada pelayaran yang selamanya tenang.

Dalam keadaan lautan seperti apapun, kita dituntut untuk berpandai-pandai. Kita diminta menjadi navigator yang cekatan. Walaupun tak pernah punya ilmu navigasi, kita diharapkan bisa untuk selalu mawas diri. Lanjutkan membaca “Kapal”

Featured

Apa Yang Terlihat, Siapa Yang Kaya?

pamer

Seorang teman bercerita, setelah ia menikah, ibu mertuanya  meminta ia memakai perhiasan emas.  Entah itu cincin atau gelang. Namun tidak kalung karena teman saya ini berhijab sehingga pastilah kalung itu akan tertutupi hijab.

Teman ini enggan mengikuti permintaan mertuanya itu. Ia tak suka warna kuning emas. Selain juga memang tak terbiasa memakai perhiasan. Seperti terasa janggal saja pada tubuhnya jika ia memakai perhiasan. Ia memang perempuan sederhana yang tak suka bersolek.

Pada sang ibu mertua, ia telah mengatakan keengganannya itu. Tapi si ibu malah marah-marah. Ada-ada saja yang dikatakan si ibu. Teman saya merasa terluka.

Si ibu mertua mengatakan betapa malunya seorang perempuan jika tak memakai perhiasan emas. Itu pertanda miskin. Bahwa kaya itu adalah apa yang terlihat. Semakin banyak yang bisa dilihat orang, berarti semakin kaya lah seseorang.

Si ibu mengatakan sejak awal dia sudah tahu bahwa teman saya ini tak terlalu kaya. Buktinya ia tak pernah memakai emas. Sepeda motornya saja sudah terlihat tak lagi mantap, warna catnya sudah pudar. Padahal setahu saya teman saya ini tergolong perempuan mapan dengan tabungan dana yang cukuplah untuk menghidupi dirinya bertahun-tahun jika dia berhenti bekerja. Dia memang hobi menabung. Lanjutkan membaca “Apa Yang Terlihat, Siapa Yang Kaya?”