Perempuan Semesta

perempuan semesta

Katamu  perempuan adalah bunga, yang terkadang mewujud angka-angka rumit yang sulit. Hingga acap napasmu terkepit.  Tapi tetap saja bumi tak kau inginkan jadi biara

Pada dekapnya kau menyejukkan semesta. Napas dan uap tubuh yang mendendangkan lelapmu berirama. Namun kadang kata-katanya api yang membakar tubuhmu. Merah merekah, seolah semua telah berdarah-darah. Seringkali hangus kau jadi abu

Dirinya adalah rahim tempat  jiwamu terkandung kala lelah menaklukan dunia. Namun tangannya pulalah yang kau lepas kala terbang melahap langit dengan perkasa. Seolah ditakdirkan ia akan kepergian dan hilang saja

Kau memanggilnya perempuan semesta. Reinkarnasi yang kau timang dan bunuh berulang kali. Seolah lenganmulah yang kokoh menitahkan takdir dengan jumawa

Menunggu Akhir

daunkl1daunkering

 

Kau adalah daun-daun berwarna cokelat pada pohon di depan halaman rumah. Kala musim menggugurkan pucuk, kau masih menggantung di ujung ranting. Aku menunggu angin mengakhiri kisah pada pohon

Hidupmu adalah kisah-kisah yang menggantung. Ada penulis murung yang kau sumpahi mati sebelum akhir cerita dituliskan. Kau adalah lelakon yang mengapung-ngapung di panggung teater dengan penonton yang lupa membawa kepala. Simpati apa lagi yang bisa diminta?

Jiwamu ikan dalam toples kaca. Semesta di luarmu begitu indahnya, cacimu dengan mulut menangis, mata berdarah.  Terlupa dirimulah yang menangkap kail bahkan saat nelayan lupa datang untuk apa. Aku menunggu dunia kehabisan air

Kematian Yang Merindu

kematian

Denyut nadi berirama. Cepat perlahan. Tak lagi terdengar. Tak lagi terasa.  Waktu menggugu.

Ketika jantung tak lagi memompa tak ada sebenar-benar diri tertidur dan tak terbangunkan. Darah berhenti. Jiwa akan terus meniti.

Raga tak perlu bertanya atas apa-apa. Kata, makna, hanyalah batas abstrak gubahan manusia.

Telah sampai keheningan itu. Melingkupi. Kerinduan yang menuntut terpuaskan. Langkah menjelang ambang penuntasan.

Jiwa berlonjak girang. Telah lama kukungan penjara memilah apa yang seharusnya tak pernah dipilah.

Sepasang lengan hangat telah terbuka. Bersiap mendekap jiwa yang telah lama bermuram. Gigil. Kedinginan.

Ialah kematian selimut yang paling menghangatkan.  Bak Pahlawan yang paling dirindukan.

Bukan kalah atas tak kuasa berperang. Ialah kemenangan atas melepaskan diri dari kukungan. Sebuah perjalanan yang menuju sebenar-benar kembali.

Kematian itu merindu. Jiwa-jiwa yang ingin kembali pulang pada rumah lama yang lebih abadi dan syahdu

 

Kata-Kata Yang Entah Apa

arguing-silluette

Ada kata-kata memenuhi meja makan malam, menyumpal penuh mulut sampai ke kepala, ke dada, ujung rambut, jempol kaki

Kata-kata pada ranjang, menemani tidur, menipu mimpi seolah nyata. Membuat lupa makna fakta

Kata-kata yang melimpah ruah, pada halaman rumah, pada tas kerja, pada wajah-wajah orang-orang tak dikenal di sepanjang jalan

Adalah kata-kata yang dimuntahkan melalui layar persegi, melalui lembar-lembar kertas berukuran besar penuh tulisan,  iklan kredit mobil, kredit rumah dan diskon bahan makanan

Adalah kata-kata keluar dari jiwa-jiwa tersesat, yang bosan pada dunia lama seolah ada hal lain di balik langit yang masih akan tetap sama

Kata-kata yang mengutuk nurani kita, sesuatu yang mereka sebut usang

Kata-kata yang menghujam, setia mendekap hingga kita percaya atau sekedar terpaksa

Kata-kata yang entah apa, entah mengapa

Buku Karya Ledian Lanis

1. SEPERTI PUISI (2016)

kumpulan cerita dan prosa

13433279_10206953001767471_3072345279792291226_o
Masih tersedia untuk teman teman yang berminat membaca buku perdana saya ini… Kumpulan cerita dan prosa “Seperti Puisi”.  (Hard cover, 29 judul tulisan, 136 halaman)
Pada buku ini ada sekumpulan cerita cerita pendek. Ada pula sederet prosa yang berbicara tentang kehidupan, kenangan, kemanusiaan, cinta, impian dan lainnya…
Terima kasih kepada yang telah memilikinya dalam genggaman dan telah membacanya. Silakan diedarkan untuk dibaca lebih banyak mata. Semoga bermanfaat.

Membedah Ibu

mother

Berulang kucari-cari tali pusarku yang melesat masuk ke matamu. Mungkin buhulnya telah menjadi fosil menancap pada hatimu yang selalu menggelegak hangat. Ataukah telah berubah ia menjadi mata air, menghujani hidupku yang sendiri kukutuki kemarau. Menyelamatkan berulang-ulang aku yang gersang.

Ingin kugali rahimmu. Sesuatu mungkin tertinggal saat kau mengusirku keluar. Sebilah pedang atau sekuntum mawar. Yang selalu kucari-cari ketika terasuk kebencian, merindukan pengusir hujaman.

Sudah berulang kali kucari di telapak kakimu, surga yang dicari-cari itu. Dunia telah mengusirku. Namun kau tutup dariku. Memukulku dengan cambuk untuk melesat bak kuda liar mencumbu hidup. Mungkin perlu kubawa kakimu kemanapun perlu, tak perlu dicari, usah dituju, surga bersamaku

Kukumpulkan rerontokan rambutmu. Yang tertinggal pada bantal, pada sofa tempat kau bersandar. Juga pada lantai dapur. Atau di teras rumah saat kau mengatarkanku dengan restu yang urung untuk banyak kelana. Tak perlu mantra dan dupa rerupa, rerontokan rambutmu tali yang mengikatku kuat. Adalah jembatan menujumu dirimu. Rumah.

 

 

 

Membunuh Dewasa

child

Jiwa kita berkelana. Pada lampu-lampu jalan, pada ucapan dilarang merokok, pada senyum merekah model iklan sabun. Jiwa yang terbiasa berhitung satu dua, lalu lupa makna aksara.

Pagi hari ada yang memasung kita dalam kebisingan, dalam keramaian. Palu besi pada kepala, tempurung pada mata . Detik-detik berlari, kita membisu.

Ada air mata, pada lukisan pemandangan bergunung dua, dengan sawah. Tentang rindu masa kecil yang terlupa. Tawa bukan bahagia. Sedih adalah jerit. Di balik meja kerja, ada jiwa kanak-kanak yang bersiap membunuh dewasa.