Kematian Yang Merindu

kematian

Denyut nadi berirama. Cepat perlahan. Tak lagi terdengar. Tak lagi terasa.  Waktu menggugu.

Ketika jantung tak lagi memompa tak ada sebenar-benar diri tertidur dan tak terbangunkan. Darah berhenti. Jiwa akan terus meniti.

Raga tak perlu bertanya atas apa-apa. Kata, makna, hanyalah batas abstrak gubahan manusia.

Telah sampai keheningan itu. Melingkupi. Kerinduan yang menuntut terpuaskan. Langkah menjelang ambang penuntasan.

Jiwa berlonjak girang. Telah lama kukungan penjara memilah apa yang seharusnya tak pernah dipilah.

Sepasang lengan hangat telah terbuka. Bersiap mendekap jiwa yang telah lama bermuram. Gigil. Kedinginan.

Ialah kematian selimut yang paling menghangatkan.  Bak Pahlawan yang paling dirindukan.

Bukan kalah atas tak kuasa berperang. Ialah kemenangan atas melepaskan diri dari kukungan. Sebuah perjalanan yang menuju sebenar-benar kembali.

Kematian itu merindu. Jiwa-jiwa yang ingin kembali pulang pada rumah lama yang lebih abadi dan syahdu

 

Buku Karya Ledian Lanis

1. SEPERTI PUISI (2016)

kumpulan cerita dan prosa

13433279_10206953001767471_3072345279792291226_o
Masih tersedia untuk teman teman yang berminat membaca buku perdana saya ini… Kumpulan cerita dan prosa “Seperti Puisi”.  (Hard cover, 29 judul tulisan, 136 halaman)
Pada buku ini ada sekumpulan cerita cerita pendek. Ada pula sederet prosa yang berbicara tentang kehidupan, kenangan, kemanusiaan, cinta, impian dan lainnya…
Terima kasih kepada yang telah memilikinya dalam genggaman dan telah membacanya. Silakan diedarkan untuk dibaca lebih banyak mata. Semoga bermanfaat.

Pada Perjalanan Pulang

landscape-1441707305-womanwalkingatnight

Pada perjalanan pulang, semua terlihat jelas. Samar namun tegas.

Lampu-lampu jalan yang takluk dalam temaram adalah seringai yang mengejek dengan lancang. Tentang aku yang kalah, terbunuh mati dalam perang yang kuciptakan saat hari baru mulai pagi dan matahari baru pertama kali bersinar.

Ada genangan air mencerminkan langit yang sedikit berbintang. Seolah mengingatkan ada hal-hal indah yang tersisa dan patut diharapkan.

Tapi seperti air yang tergenang, tak pernah cukup layak ia menuaikan dahaga yang menggila. Apalagi matahari esok akan garang marah, lalu menyisakannya sekedar menjadi uap-uap. Seperti kenangan yang kita tangisi saat renta

Ada pemulung  mengais sampah. Mencium menjilat makanan sisa tak tertandingi enak.

Ada pengamen menghitungi recehan dari kantong besar usang. Gitar lusuh, harmonika penuh liur dan rambut mengumpul debu.

Ada orang-orang berpantofel, berseragam kantoran di stasiun menunggu bus yang berpantang lelah. Disesaki keringat yang pengap menguap bosan dan muak. Kepala memberat terpenuhi omong kosong.

Pada semua ada, luput diri merasa hilang.

Bahwa ada aku yang berjalan tergugu teringat jiwaku sendiri yang telah kubunuh tadi pagi.

Gegas

gegas

Tiap kali berkendara di jalan raya, saya sering berimajinasi bahwa setiap orang sedang bergegas. Semuanya terburu-buru karena hal-hal mendesak, satu dua hal yang teramat genting. Sebab itulah kendaraan yang sebenarnya sudah berhasil memangkas waktu (ketimbang dengan berjalan kaki) menjadi masih terasa lamban.  Sementara semua orang teramat perlu bergegas, untuk hal-hal yang mungkin saja sesuai dengan imajinasi saya.

Saya berimajinasi pengendara motor yang baru saja memotong kendaraan saya sedang terburu-buru karena istrinya akan melahirkan. Lalu saya membayangkan pengendara mobil di belakang, yang terlalu sering memencet klakson, lupa mematikan kompor saat merebus air. Lalu pengendara mobil yang suka menyerempet kiri kanan adalah dokter yang terlambat untuk sebuah operasi penting. Jika tidak pasien bisa mati. Pengendara motor lainnya yang sibuk salip sana sini sedang buru-buru mencari ayahnya yang pikun dan menghilang dari tadi pagi. Continue reading “Gegas”

Perempuan Dalam Lukisan

 

perempuan

 

Ia mendapat kiriman paket. Sebuah lukisan perempuan cantik berbingkai pigura warna emas. Tanpa nama pengirim, hanya namanya sebagai penerima.

Ingin ia mencari tahu siapa yang menghadiahkan padanya. Tapi  kemana pula bisa dicari? Sementara menolak  atau membuang lukisan itu pun dirasa merugi. Lukisan yang alangkah indah, membuatnya terpesona.

Tengah malam, sambil berbaring di ranjang, dipandanginya lukisan yang sudah digantung pada dinding kamar. Tiba-tiba alangkah terkejut ia, perempuan dalam lukisan keluar dari pigura, hidup layaknya manusia. Continue reading “Perempuan Dalam Lukisan”

Berterima Kasih

thank

 

Dalam hidup, entah mengapa selalu menghitung apa yang tak dimiliki, untuk kemudian disesali, dimaki, ditangisi. Lalu menjadi enggan berterima kasih. Seolah terlupa pada hal-hal baik yang tak terhitung banyaknya. Sesuatu dan banyak hal yang mungkin terlupakan atau sengaja kau lupakan. Hal-hal yang membuatmu ‘ada’ pada dunia. Hal-hal yang membuatmu mudah untuk mengarungi hidup, bahagia menjalani hidup.

Adalah, tiap jengkal tubuhmu, bahkan hingga partikel-partikel terkecil. Katamu semuanya bukan milikmu. Adalah pemberian, adalah ciptaanNYA, Sang Pencipta. Kau berterima kasih. Kadang-kadang. Continue reading “Berterima Kasih”

Misteri Buku Ibu

buku

“Ayah, kenapa nenek selalu menangis membaca buku tua itu? Buku yang bertuliskan 1965. Dari dulu aku sering melihat nenek begitu?” tiba-tiba anakku, Bagas bertanya. Aku yang sedang duduk-duduk sambil membaca koran langsung terkejut. Pertanyaan Bagas bagai halilintar siang bolong.

Sungguh, sudah amat lama aku tak teringat buku itu. Sebuah buku tua berwarna cokelat. Tulisan 1965 tertera di sampulnya. Sepertinya ibu menulis sendiri angka 1965 itu dengan spidol hitam. Entahlah, aku tak bisa memastikan. Toh, dari dulu aku hanya bisa melihat dari kejauhan, saat aku mengintip dari celah pintu ketika ibu menangis membacanya.

Seingatku, sejak kecil aku sering melihat ibu membaca buku itu. Biasanya ia membacanya tengah malam. Aku sering memergoki ibu membacanya saat aku tiba-tiba terjaga di malam buta. Dan selalu saja, tiap kali terlihat olehku ibu membaca buku itu, ibu selalu saja membacanya sambil menangis. Tangis yang seolah sungguh pelampiasan akan kesedihan yang amat dalam. Continue reading “Misteri Buku Ibu”