Jangan Panggil Aku Penyair

kla

 

Masih akan kutulis juga syair-syair

Walau lambung bercumbu punggung

Walau dada tak akan pernah membusung

Sebab berpantang tunduk pada semua bisu yang membumbung

Sebab  berpantang dibunuh semu takdir

 

Jangan pernah kau panggil aku penyair

Karena kata-kata bagimu adalah bunga-bunga

Sementara dunia adalah kumpulan lupa dan kuburan caci maki nista

Dan kita adalah makhluk terkutuk

yang selalu ingat untuk sekedar nyinyir

 

Namun tetap saja kau tak pernah alpa melupakan diri sendiri

Serupa membunuh berkali-kali jiwa sendiri

 

Biarkan syair-syair memuntah dari mulutku

Tak akan ada arti napas tanpa kata-kata

Yang menggema sebagai mantra-mantra pengingat lupa

Sementara kau tetap membuncitkan perut

Sibuk meraup segala

Hingga napas habis, hidup hanya  itu saja

Saat Hidup, Apa Yang Dicari?

damai.jpg

Sore itu sungguh indah, warna kejinggaan matahari senja terlihat mempesona di area pegunungan itu. Seorang penggembala muda sedang duduk di bawah pohon sambil menatap domba-dombanya yang masih sibuk melahap rumput.

Namun indahnya senja itu tak mempengaruhi si penggembala sedikit pun. Ia sedang terlarut dalam lamunannya sendiri. Ah, aku merasa tak bahagia, begitulah ia berpikir dalam lamunannya. Ada yang salah dengan hidupku, pikirnya lagi.

Berhari-hari si penggembala menyibukkan benaknya dengan pemikiran itu. Tentang kebahagiaan yang tak ia rasakan dalam hidupnya. Hingga akhirnya ia mengambil keputusan untuk  berhenti menjadi penggembala. Ia ingin menjadi pedagang, saudagar sehingga memperoleh banyak uang. Mungkin dengan menjadi kaya ia bisa bahagia, begitu pikirnya.

Selang berapa lama si penggembala sudah menjadi saudagar sukses. Hartanya berlimpah. Sungguh ia seorang yang mujur. Dengan harta ia pun bersiap mencari bahagia. Ia beli semua apa yang diinginkan, pergi kemana pun kaki ingin melangkah, menghabiskan uang demi apapun ia bisa merasa senang, berjudi, berbelanja, menghambur-hamburkan uang.  Continue reading “Saat Hidup, Apa Yang Dicari?”

Hujan Reda, Kenangan Tak Ada

hujan-reda

Hujan reda, kenangan masih tak ada

Dunia hanyalah perahu untuk menepi pada pelabuhan yang masih diduga-duga

 

Hujan reda, kenangan masih tak ada

Raga-raga tak kusimpan dalam ruang, selain jiwa-jiwa berpenerang

Yang memamah semesta, mencari-cari arah jalan pulang

Menghindari satu per satu jebakan dan kurungan

 

Hujan reda, kenangan masih tak ada

Aku yang Kau sumpahi lupa saat pertama bertemu udara

Maka telah pula kusumpahi diri sendiri untuk melupakan semua

Selain Kau yang masih selalu kucari-cari, walau sering kuyakini begitu acap kudatangi

 

Hujan reda, kenangan masih tak ada

Aku yang kekal, semua punah

Kau yang abadi tak akan pernah fana

Mencari Diri Sendiri

soul

Sering kita kehilangan diri sendiri,  pada ramai keramaian, pada hingar bingar tawaan, ada sedih pilu tangisan.  teriakan-teriakan atau umpatan.  Dari orang lain, banyak-banyak raga

Tak satu dua kali kita hilang, dari diri kita sendiri, saat tiada raga lain,  saat hanya ada helaan napas sendiri. Kita mencari-cari diri, hingga menginginkan raga-raga lain menjadi milik. Tapi tetap saja kita menyadari masih kehilangan diri sendiri

Entah kemana harus dicari? Apakah pada gegap gempita malam? Pada sibuk kalut siang? Pada hingar bingar banyak kesenangan?

Namun tetap saja kita masih kehilangan diri sendiri

Kita masih melupakan di sudut kelam ada yang menunggu dijemput atau sekedar disapa.  Adalah diri kita sendiri yang selalu kita cari-cari sendiri. Berada di dalam diri, tempat yang selalu luput dari kita cari

Sang Raja Sedang Gundah

raja
(Perihal Rakyat Menuntut Penangkapan Seorang Pencuri)
 
Di suatu negeri nun jauh di awang-awang keadaan sedang genting. Sang Raja pun dibuat galau. Para penasehatnya berusaha memberikan solusi.
 
Konon cerita alangkah banyak rakyat berkumpul di depan gerbang benteng kerajaan. Mereka marah dan geram karena seorang pencuri membuat resah. Mereka ingin pencuri itu segera ditangkap. Maka datanglah mereka berbondong-bondong demi menuntut keinginan itu segera tercapai.
 
Raja pun langsung ingin bergegas keluar dari benteng demi menemui rakyatnya. Namun penasehat 1 melarang.
 
Penasehat 1 : Wahai Rajaku, kiranya urungkanlah niatmu untuk menemui kumpulan rakyat yang alangkah banyaknya itu.
 
Raja : Mengapa begitu? Rakyat tentu harus kutemui. Aku adalah pemimpin mereka, harus kudengarkan keluhan dan permintaan mereka. Apalagi selama ini aku selalu datang mengunjungi mereka. (Raja menampakkan raut kesal pada penasehat 1 yang ia nilai telah memberikan solusi tak logis)

Continue reading “Sang Raja Sedang Gundah”

Mari Padamkan Kobaran Api Ini Bersama-Sama

api

(Stop Bagikan link web, portal, meme, tulisan yang membuat semakin marah, sedih orang lain dan diri sendiri)

Sudah beberapa hari ini isi jejaring sosial ibarat ledakan ledakan api. Terjadi kebakaran yang semakin menggila di negara ini. Kebakaran yang tak terlihat. Api itu semakin besar. Terlalu banyak kita menyiramkan bensin. Maka semakin berkobarlah ia.

Bensin ini adalah  sharing-sharing, postingan semua hal yang semakin mengobarkan api amarah kita yang bersarang di dada masing-masing. Juga rasa kesedihan kita dan ketersinggungan kita.

Bensin ini berupa pula link tulisan dari portal atau web tertentu, foto, meme, kalimat status. Semua hal yang bisa menyinggung orang lain atau semakin membuat orang lain marah, kesal dan  sedih. Continue reading “Mari Padamkan Kobaran Api Ini Bersama-Sama”

Jiwa Dalam Tempurung

 

jiwa

Masih akan ada jiwamu yang kau tangkup dengan tempurung. Gelap, pengap,

terkukung. Terlupa apakah ada selain kurung

Di luar, bumi berakrobat, melonjak meloncat. Tentang perubahan yang meronta memberontak. Sementara langit terjerembap.

Apa itu mengudara? caci maki, benci dendam, berat mengawang-awang, membunuh semesta?

Masih akan ada jiwamu yang kau tangkup dengan tempurung. Saat sepi bising membumbung, terkurung murung. Saat ramai suara dalam otak bertengkar kala tak ada sesiapa di sekitar. Tentang lupa apa dan untuk apa ada di dunia

Ada jiwamu yang kau tangkup dengan tempurung. Sadar akan kurung, dunia yang membumbung. Membuat murung. Namun tetap urung menjadi burung