Sejarah Islam dari Sudut Pandang Aisyah

Judul Buku: Humaira, Ibunda Orang Beriman
Pengarang: Kamran Pasha
Penerbit: Zaman
Cetakan: Juli 2010
Tebal buku: 616 halaman

Humaira atau yang berarti pipi yang kemerah-merahan begitulah Nabi Muhammad memanggil Aisyah binti Abu Bakar, istrinya setelah Khadijah wafat. Istri yang disebut-sebut sebagai istri yang paling disayangi nabi Muhammad (selepas peninggalan Khadijah) dari istri-istrinya yang lain. Aisyah masih begitu muda saat awal mendampingi nabi Muhammad dan menjadi Ibunda kaum mukmin, ibunda orang-orang beriman. Sejarah mencatat Aisyah punya daya ingat yang cemerlang, ia dapat mengingat dengan baik hal-hal kecil hingga hal besar semasa ia mendampingi nabi Muhammad.

Melalui ingatan Aisyah inilah, Kamran Pasha berupaya menceritakan tentang Nabi Muhammad. Kamran Pasha mengajak pembaca novel Humaira mengenal Nabi Muhammad, mengenal Aisyah dan juga mengetahui bagaimana kehidupan Nabi dan perjuangannya menyebarkan Islam hingga bagaimana Islam menjadi sebuah imperium besar. Novel Humaira ini ditulis Kamran Pasha dengan riset dan pengetahuannya tentang sejarah Timur Tengah dan sejarah Islam. Kamran Pasha disebut-sebut sebagai cahaya Islam di kancah Hollywood. Pria yang berdomisili di Hollywood ini menghasilkan karya yang berkaitan dengan Islam berupa novel dan film.

Melalui Humaira pembaca diajak melakukan perjalanan sejarah masa lalu Islam. Humaira diceritakan merupakan sebuah buku catatan tentang kisah perjalanan hidup Aisyah semenjak ia mulai punya ingatan hingga ia menutup umur. Buku catatan itu diberikan Aisyah pada keponakannya, Abdullah, anak dari kakaknya, Asma binti Abu Bakar. Tapi bukan hanya penceritaan dari sudut pandang Aisyah saja yang menghiasi novel ini, Humaira juga diperkaya dengan penceritaan dari sudut pandang tokoh lain sehingga membuatnya menjadi lebih ‘kaya’.

Novel ini juga cukup membuat kita mengenal sosok Aisyah. Aisyah yang ceria, cerdas. Bagaimana Aisyah menanggapi perjodohannya dengan Rasulullah, bagaimana ia di umur yang masih sangat muda harus menjadi panutan, menjadi ibunda kaum mukmin. Bagaimana seorang Aisyah mampu menghadirkan keceriaan pada Rasulullah hingga mengajak pembaca untuk melihat cerita tentang fitnah perselingkuhan yang pernah melanda Aisyah dari sudut pandang Kamra Pasha.

Humaira berlatarkan Negeri Arabia, Mekah dan Madinah empat belas abad silam. Namun, pembaca tidak dibawa dari awal ketika wahyu tentang Islam baru mulai mendatangi Nabi. Ceritanya lebih berfokus saat Islam sudah memiliki pendukung dan kaum Quraish yang mulai merasakan keberadaan Nabi Muhammad mengancam kedikjayaan Quraish. Humaira lebih memfokuskan cerita pada Aisyah kecil yang mulai memahami tentang Islam yang beranjak besar menjadi sebuah Imperium, semasa Aisyah mendampingi Nabi hingga saat kepemimpinan nabi diganti oleh masa kepemimpinan Kahfillah.

Dengan alur cerita itu pembaca akan disuguhkan kisah tentang Islam yang semakin kuat mulai dari masuk Islamnya Umar Bin Khatab yang ditakuti karena kekuatannya hingga keberhasilan penaklukkan suku-suku seputar Arabia oleh Nabi Muhammad dan Khafillah. Kisah perang badar, perang uhud menjadi salah satu tema yang diceritakan. Begitu pula tentang bagaiamana upaya melumpuhkan Islam dengan cara-cara yang licik, pengingkaran atas perjanjian dan berbagai upaya lainnya. Pembaca dibawa untuk ‘melihat’ bagaimana kepemimpinan nabi Muhammad yang membawa Islam berkembang luas.

Diantara kisah tentang sejarah Islam, Kamran Pasha juga mengajak untuk mengenal sosok Nabi Muhammad, kehidupan pribadinya bersama istri-istrinya. Misalnya bagaimana beliau berupaya tetap berlaku adil pada istri-istrinya, bagaimana kisah atau latar belakang dibalik pernikahannya dengan beberapa istrinya. Misalnya beliau menikah satu dua istri memang berdasarkan keinginan hati dan beberapa istri lainnya untuk kepentingan politik atau rasa iba hati akan nasib perempuan tak bersuami.

Bukan hanya mengangkat tentang sisi terang masa penyebaran Islam kala itu, Kamran juga memuat cerita sejarah kelam Islam dimana perang antar kaum mukmin sempat berkobar. Suatu fakta miris dimana Aisyah adalah salah satu lakon dibalik berkobarnya perang saudara. Dengan alur cerita yang seperti itu bisa dikatakan Kamran Pasha menghadirkan sejarah Islam dan cerita hidup Aisyah dengan sangat objektif. Sisi terang dan sisi kelam ia ungkap bersama untuk membuat pembaca mengetahui keduanya sekaligus.

One thought on “Sejarah Islam dari Sudut Pandang Aisyah

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.774 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: